Dari “Balita” ke Dewasa: Bakul Budaya Nusantara Konsisten Lestarikan Budaya Setiap Sabtu

DEPOK, PIJARNUSA.COM – Di usia yang masih “balita”, Bakul Budaya Nusantara sudah melangkah jauh. Setiap Sabtu pukul 08.00 hingga sore, halaman dan panggung kecil di Depok tak pernah sepi. 

Di sana ada tarian, literasi, anak-anak yang belajar permainan tradisional, hingga aksi nyata untuk bumi.

Sabtu, 13 September 2026, komunitas ini merayakan ulang tahun ke-4 sekaligus memperingati Hari Tenun Nasional dengan tema besar: “Kolaborasi: Berkenalan dengan Tenun dan Budaya Kalimantan”.

4 Tahun Perjalanan Konsisten

Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Tri Fajar Marhaeni Dewi, menyebut empat tahun terakhir adalah perjalanan yang dijalani setahap demi setahap.

“Empat tahun ini berhasil kami jalani lewat kegiatan rutin setiap Sabtu dari pukul 08.00 sampai sore, untuk bersama-sama melestarikan budaya,” ujarnya di sela acara.

Ada tiga misi utama yang terus dijalankan Bakul Budaya:

1. Merawat Bumi  

Lewat program tahunan “Sedekahnya Hutan”.  “Hutan bukan mainan. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan daerah lain menunjukkan kita sudah lalai terhadap lingkungan. Makanya kami mengajak masyarakat berdonasi untuk penanganan hutan di Kalimantan,” kata Tri Fajar.

“Sedekah Hutan 2026” digelar pada 7-8 Agustus lalu. Hasil donasi telah disalurkan untuk penanganan kerusakan hutan.

2. Keberagaman

Tahun ini Bakul Budaya menyoroti toleransi di Kalimantan Barat, khususnya Singkawang yang dijuluki kota paling toleran di Indonesia.  

“Bagaimana Tionghoa, Melayu bisa berjalan berdampingan. Itu contoh yang perlu kita angkat agar kita bisa menerima semua perbedaan,” jelasnya.

3. Kemanusiaan

Pada Hari Anak Nasional Juli lalu, Bakul Budaya menggelar “Gerak Anak”. Anak-anak tidak dijadikan objek, tapi “pengemudi yang bergerak”. 

“Kami perkenalkan anak-anak dengan permainan dari Kalimantan Selatan agar mereka tahu budaya mereka tidak terpaku. Alhamdulillah sukses besar. Anak-anak berhak mendapatkan haknya untuk bergembira,” ujarnya.

Tenun Kalimantan Jadi Sorotan HUT ke-4

Puncak perayaan 13 September diisi rangkaian budaya Kalimantan. Ada tari-tarian Kalimantan setiap Sabtu, literasi budaya Kalimantan, dan bedah wawasan tentang tenun Kalimantan. Budayawan Dianurip juga hadir berbagi pengetahuan.

“Bakul Budaya membuka pintu kebaikan untuk semua. Budaya adalah jembatan untuk berinteraksi. Dalam 4 tahun ini kami membuka ruang kolaborasi dengan semua pihak,” kata Tri Fajar.

Ia mengapresiasi dukungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya FIB UI dan Pemkot Depok.

“Terima kasih kepada FIB UI yang mengawal sejak awal kelahiran Bakul Budaya. Juga Pemkot Depok yang sekarang sudah sangat terbuka. Pak Wakil Wali Kota juga Ketua Dewan Pembina kami,” ucapnya.

Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, yang hadir turut mengapresiasi. Menurutnya, tema tenun dan Kalimantan sangat relevan.

“Empat tahun lalu ketika berdiri saya masih jadi wakil. Dari satu bakul sampai sekarang sudah mengisi banyak kegiatan. FIB UI akan terus mengawal sebagai pengawal keragaman budaya Nusantara,” kata Dr. Untung.

Ia menekankan pentingnya peran komunitas dalam merawat budaya. “Tidak ada kebudayaan negatif. Kebudayaan adalah hasil olah pikir, olah rasa, olah karsa manusia yang berbudaya. Karena itu harus dirawat bersama,” tegasnya.

Dr. Untung juga menyoroti tren baru memadukan budaya dengan kepedulian lingkungan. “Bakul Budaya sangat berkomitmen merawat bumi melalui aneka kegiatan budaya dan keterampilan. Ini yang dibutuhkan anak muda sekarang.”

Masih “Balita”, Semangat Tak Surut

Dengan 4 tahun perjalanan, Bakul Budaya mengaku masih banyak kekurangan.  

“Kami masih balita. Perlu perjalanan dan pengalaman lebih luas. Mohon maaf dan mohon masukannya,” kata Tri Fajar.

Meski begitu, semangatnya tidak surut. “Kami berjalan tanpa sponsor. Bisa sampai hari ini karena rasa cinta dan rasa sayang yang mempertemukan kami setiap Sabtu. Kita mengolahragakan olahraga dan mengolah jiwa,” tutupnya.

Di akhir acara, sorotan juga diberikan kepada “anak kesayangan” Bakul Budaya: anak-anak disabilitas yang sudah luar biasa berkarya bersama komunitas.

Dari Depok, Bakul Budaya Nusantara ingin membuktikan satu hal: melestarikan budaya tidak harus menunggu besar. Cukup dimulai dari satu Sabtu, satu tarian, satu benang tenun, dan satu aksi untuk bumi. (Wismo) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *