Haidar Alwi: Kekuatan Polri Menjaga Demokrasi dari Eskalasi Liar

Demonstrasi pada 27 Agustus 2026 di kawasan DPR/MPR RI Jakarta memperlihatkan betapa kompleksnya menjaga demokrasi ketika dinamika massa berubah sangat cepat. Penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis, tetapi ketika sebagian situasi berkembang menjadi perusakan dan kericuhan, negara memiliki tanggung jawab melindungi keselamatan masyarakat, fasilitas publik dan ketertiban umum. Di titik inilah kualitas Polri terlihat, bukan semata dari kemampuannya menghadapi massa, melainkan dari kecerdasannya membaca perubahan situasi dan mengendalikan eskalasi tanpa mematikan ruang demokrasi.

Peristiwa tersebut layak dibaca lebih dalam sebagai ujian terhadap kemampuan institusional kepolisian. Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, memandang bahwa kerumunan dalam sebuah aksi massa tidak pernah sepenuhnya homogen. Ada warga yang menyampaikan aspirasi, ada yang terbawa dinamika, ada pelaku tindak pidana, dan dapat pula muncul pihak yang memanfaatkan momentum. Karena itu, persoalan utamanya bukan demonstrasi, melainkan perubahan situasi yang bergerak keluar dari tujuan awal dan berkembang menjadi “Eskalasi Liar.”

Eskalasi liar bukan tuduhan terhadap seluruh peserta aksi. Istilah ini digunakan untuk membaca perubahan dari situasi yang masih terkendali menjadi gangguan yang semakin sulit dikendalikan. Karena itu, kepolisian profesional membutuhkan kemampuan membedakan, mengukur dan merespons sesuai tingkat risiko, sehingga hak masyarakat yang menyampaikan aspirasi tetap terlindungi sementara tindakan pidana tetap berada dalam koridor hukum.

“Kekuatan Polri bukan terletak pada kemampuan membuat demokrasi sunyi, tetapi pada kemampuan menjaga demokrasi tetap hidup tanpa membiarkan kekerasan mengambil alih ruang publik,” tegas Haidar Alwi.

Perspektif tersebut membawa kita melihat Polri bukan sekadar pasukan yang tampak di garis depan, melainkan sebuah sistem keamanan yang memiliki banyak lapisan dan pengalaman untuk menghadapi perubahan situasi.

Polri Memiliki Arsitektur Keamanan yang Bekerja Berlapis.

Kerja kepolisian dimulai jauh sebelum gangguan menjadi besar. Fungsi intelijen membaca dinamika, memetakan potensi ancaman dan menyediakan informasi bagi keputusan operasional. Fungsi pembinaan masyarakat membangun pendekatan preemtif, sementara Samapta, Dalmas dan negosiator menyediakan instrumen pencegahan, komunikasi serta pengendalian situasi. Struktur Polri memungkinkan berbagai fungsi tersebut bergerak sesuai karakter dan tingkat risiko suatu keadaan.

Ketika risiko meningkat, Polri memiliki kemampuan respons melalui Brimob. Pada saat yang sama, fungsi lalu lintas menjaga mobilitas masyarakat dan akses kota, sedangkan fungsi Humas menjadi bagian penting dalam komunikasi publik di tengah arus informasi digital yang bergerak sangat cepat. Pengamanan demonstrasi dengan demikian bukan pekerjaan satu unit, melainkan orkestrasi berbagai kemampuan kepolisian, mulai dari intelijen, pencegahan, negosiasi, pengendalian massa, mobilitas, komunikasi hingga penegakan hukum.

Kekuatan itu sering tidak terlihat dari luar. Masyarakat mungkin hanya melihat barikade dan personel di lapangan, padahal di belakangnya terdapat sistem yang membaca situasi, mengatur pengerahan, menjaga jalur publik, mengelola informasi dan memproses pelanggaran hukum. Kapasitas tersebut menunjukkan bahwa Polri memiliki fondasi institusional yang kuat untuk menghadapi dinamika keamanan modern secara semakin presisi.

“Polri modern adalah kekuatan yang berpikir sebelum bertindak, membaca sebelum merespons, dan menggunakan kewenangan secara terukur agar keselamatan rakyat tetap menjadi tujuan tertinggi,” jelas Haidar Alwi.

Kekuatan institusional tersebut menjadi semakin penting ketika situasi bergeser dari persoalan pengamanan menjadi persoalan hukum. Di sinilah ketegasan Polri diuji melalui kemampuan membedakan aspirasi dengan tindak pidana.

Ketegasan Polri Terlihat dari Kemampuan Membedakan Aspirasi dan Kejahatan.

Demonstrasi damai merupakan bagian dari demokrasi. Sebaliknya, perusakan, penganiayaan atau tindak pidana lainnya tidak memperoleh legitimasi hanya karena terjadi di tengah demonstrasi. Negara hukum menjadi kuat ketika kebebasan menyampaikan pendapat tetap dilindungi, sementara perbuatan melawan hukum diproses berdasarkan fakta dan alat bukti.

Data Polda Metro Jaya memperlihatkan proses tersebut. Dari 322 orang yang diamankan dalam kericuhan 27 Agustus, setelah pemeriksaan, verifikasi dan sinkronisasi data penyidik, sebanyak 273 orang dipulangkan, sementara 49 orang ditetapkan sebagai tersangka. Dari 49 tersangka tersebut, 44 merupakan orang dewasa dan lima merupakan anak yang berkonflik dengan hukum. Data ini penting karena memperlihatkan adanya proses pemilahan sebelum status hukum ditetapkan.

Hal tersebut memberikan pelajaran penting: diamankan tidak sama dengan bersalah, dan berada di lokasi tidak otomatis menjadikan seseorang pelaku. Penyidikan juga memetakan peran berdasarkan fakta dan alat bukti. Dengan pendekatan demikian, persoalan tidak berhenti pada pertanyaan berapa orang yang diamankan, tetapi bergerak kepada siapa melakukan apa, bagaimana perbuatannya terjadi dan bukti apa yang mendukungnya.

“Ketegasan Polri justru semakin bernilai ketika ketegasan itu tidak membabi buta. Hak rakyat dilindungi, perbuatan pidana ditindak, dan kesalahan ditentukan oleh bukti. Itulah wajah negara hukum yang kuat,” ujar Haidar Alwi.

Dari sini terlihat bahwa pengamanan bukan akhir pekerjaan. Polri membawa sebuah peristiwa melalui rangkaian pengendalian, pemeriksaan, pemilahan dan penegakan hukum. Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting agar ruang demokrasi tetap terbuka sekaligus kekerasan tidak memperoleh ruang untuk berkembang.

Polri Menjadi Pilar Keamanan Demokrasi Indonesia.

Kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo berada dalam rangkaian pengelolaan keamanan yang lebih luas. Pada 11 Agustus 2026, Kapolri mengikuti rapat koordinasi strategis bersama pimpinan DPR, Mensesneg dan Panglima TNI mengenai kesiapan serta pemetaan pengamanan berbagai agenda nasional sepanjang Agustus. Ini menunjukkan bahwa pengamanan dipersiapkan melalui pemetaan dan koordinasi, bukan semata-mata dimulai ketika massa sudah berada di depan gedung parlemen.

Masyarakat juga memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Demonstrasi tidak layak disamakan dengan kerusuhan, sementara kerusuhan tidak layak dibenarkan hanya karena berlangsung dalam suasana politik. Di era digital, kemampuan memeriksa konteks menjadi bagian dari tanggung jawab publik. Informasi yang tidak terverifikasi dapat memperbesar ketegangan, sementara informasi yang benar dapat membantu masyarakat memahami situasi secara lebih jernih.

Ketika eskalasi berhasil dikendalikan, yang terlindungi bukan hanya gedung negara. Keselamatan warga, mobilitas kota, aktivitas ekonomi, pelayanan publik dan rasa aman masyarakat ikut terjaga. Koordinasi dengan TNI dan unsur intelijen negara dapat memperkuat ekosistem keamanan, tetapi kekuatan utama tetap berada pada kapasitas Polri sendiri: intelijen, pencegahan, negosiasi, pengendalian massa, respons taktis, lalu lintas, komunikasi dan penegakan hukum yang bergerak sebagai satu sistem.

Indonesia memiliki institusi kepolisian dengan struktur, pengalaman, personel dan kemampuan yang terus berkembang mengikuti kompleksitas tantangan keamanan. Demokrasi menjadi semakin kokoh ketika kebebasan rakyat terlindungi, aparat mampu bertindak terukur, hukum ditegakkan berdasarkan bukti, dan masyarakat tidak mudah diseret oleh provokasi maupun informasi yang kehilangan konteks.

“Demokrasi Indonesia tidak perlu takut kepada suara yang berbeda. Yang perlu kita cegah adalah ketika perbedaan kehilangan ruang dialog dan digantikan oleh kekerasan. Selama Polri menjaga profesionalisme, kecerdasan, ketegasan dan keberpihakan kepada keselamatan rakyat, bangsa ini memiliki kekuatan untuk melewati setiap dinamika dengan kepala tegak dan masa depan yang semakin kokoh. Itulah kekuatan negara yang sesungguhnya,” pungkas Haidar Alwi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *