Ketika Demokrasi Diperjuangkan Membaca Indonesia Melalui Autobiografi Erros Djarot

Oleh: Laksamana Sukardi

“Sebuah bangsa tidak kehilangan demokrasinya dalam satu malam. Demokrasi mulai memudar ketika generasi mudanya tidak lagi mengenal bagaimana demokrasi itu diperjuangkan.”

Peluncuran autobiografi Erros Djarot bukan sekadar sebuah peristiwa literasi. Ia merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya kepada diri sendiri: masihkah kita mengingat harga yang harus dibayar untuk menghadirkan demokrasi yang kita nikmati hari ini?

Bagi sebagian besar generasi muda Indonesia, demokrasi adalah sesuatu yang terasa biasa. Mereka tumbuh dengan kebebasan berpendapat, pemilihan umum yang terbuka, kebebasan pers, dan pergantian pemerintahan melalui mekanisme konstitusional. Semua itu seolah merupakan keadaan yang alamiah.

Padahal sejarah berkata sebaliknya.

Demokrasi Indonesia tidak lahir sebagai hadiah dari penguasa. Ia lahir melalui perjuangan panjang yang dipenuhi intimidasi, penangkapan, penculikan, bentrokan, bahkan pengorbanan jiwa. Demokrasi dibangun oleh mahasiswa, aktivis, seniman, wartawan, cendekiawan, tokoh politik, dan jutaan rakyat biasa yang percaya bahwa kedaulatan harus kembali berada di tangan rakyat.

Dalam konteks itulah autobiografi Erros Djarot menjadi sangat penting.

Buku ini bukan sekadar kisah hidup seorang seniman. Ia merupakan kesaksian seorang pelaku sejarah yang berada di dalam pusaran perjuangan demokrasi Indonesia. Pembaca tidak hanya diajak mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami bagaimana sebuah gerakan dibangun, bagaimana strategi dirumuskan, bagaimana harapan dipelihara di tengah rasa takut, dan bagaimana sebuah rezim yang tampak begitu kokoh akhirnya dapat ditantang oleh kekuatan moral rakyat.

Erros Djarot selama ini dikenal sebagai seniman besar Indonesia. Lagu-lagunya menjadi bagian dari sejarah musik nasional. Film Cut Nyak Dien yang disutradarainya memperoleh pengakuan luas sebagai salah satu karya sinema terbaik Indonesia.

Namun autobiografi ini memperlihatkan sisi lain dirinya.

Ia bukan hanya seorang seniman.

Ia adalah konseptor, komunikator politik, dan salah satu pelaku penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Instingnya sebagai sutradara ternyata tidak berhenti di dunia perfilman. Ia memahami bahwa perjuangan politik juga membutuhkan narasi, kepemimpinan, komunikasi, simbol, dan momentum. Ia melihat bahwa sebuah gerakan demokrasi hanya dapat hidup apabila mampu membangun harapan di hati rakyat.

Di dalam buku ini pembaca dapat mengikuti bagaimana Megawati Soekarnoputri, yang pada masa itu belum dipandang sebagai tokoh politik utama dan lebih dikenal sebagai putri Proklamator Soekarno, perlahan berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru.

Erros Djarot menjelaskan bagaimana strategi komunikasi dibangun, bagaimana pidato-pidato politik dipersiapkan, bagaimana citra kepemimpinan dibentuk, dan bagaimana sebuah gerakan memperoleh legitimasi moral di mata rakyat.

Nilai buku ini justru terletak pada posisinya sebagai dokumen sejarah primer.

Arsip negara mencatat keputusan.

Media mencatat peristiwa.

Namun hanya pelaku sejarah yang mampu menjelaskan pergulatan batin, pertimbangan strategis, dan dinamika di balik layar yang tidak pernah masuk ke dalam dokumen resmi.

Di dalam autobiografi ini pembaca juga diajak memahami berbagai peristiwa penting yang menjadi tonggak perjalanan demokrasi Indonesia, mulai dari dinamika internal PDI, Kongres PDI di Bali yang menjadi simbol kebangkitan demokrasi, hingga Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menggunakan seluruh instrumen negara untuk mempertahankan status quo.

Ironisnya, upaya membungkam suara rakyat justru memperbesar simpati publik terhadap gerakan demokrasi dan menjadi salah satu mata rantai penting yang mengarah pada Reformasi 1998.

Perjuangan itu tidak pernah murah.

Banyak mahasiswa kehilangan masa depan.

Banyak aktivis kehilangan kebebasan.

Sebagian bahkan kehilangan nyawa.

Karena itu, demokrasi yang dinikmati Indonesia hari ini sesungguhnya dibangun di atas pengorbanan yang tidak sedikit.

Autobiografi Erros Djarot juga menyampaikan pelajaran kepemimpinan yang sangat berharga.

Memenangkan perjuangan ternyata bukanlah bagian yang paling sulit.

Yang jauh lebih sulit adalah menjaga ruh perjuangan setelah kemenangan berhasil diraih.

Dalam setiap gerakan besar selalu ada orang-orang yang berjuang bukan karena jabatan, melainkan karena sebuah cause. Mereka rela mengorbankan waktu, kenyamanan, bahkan keselamatan demi sebuah cita-cita yang mereka yakini lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Merekalah yang sesungguhnya membangun fondasi kemenangan.

Namun sejarah juga menunjukkan sebuah ironi.

Setelah kemenangan diraih, sering kali muncul kelompok-kelompok baru yang tidak mengalami pahitnya perjuangan, tetapi menikmati hasilnya. Ketika idealisme mulai bergeser menjadi pragmatisme, ketika loyalitas kepada perjuangan berubah menjadi loyalitas kepada kepentingan, dan ketika the cause digantikan oleh conflict of interest, maka benih-benih kemunduran mulai tumbuh.

Di sinilah autobiografi Erros Djarot memberikan refleksi yang sangat berharga.

Pembaca diajak merenungkan bahwa menjaga semangat perjuangan sering kali jauh lebih sulit daripada memenangkan perjuangan itu sendiri.

Dalam konteks perjalanan politik Indonesia, buku ini juga memberi ruang untuk merefleksikan dinamika setelah kemenangan besar PDI Perjuangan pada Pemilu 1999. Salah satu refleksi yang mengemuka adalah pentingnya menjaga kesinambungan the winning team—orang-orang yang sejak awal berjuang karena cita-cita bersama. Ketika tim yang dibangun atas dasar pengorbanan dan kepercayaan mulai tergantikan oleh lingkungan yang lebih dipengaruhi kepentingan pribadi dan konflik kepentingan, arah perjuangan dapat berubah.

Tentu, kekalahan Megawati Soekarnoputri dalam Sidang Umum MPR 1999 tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Proses tersebut dipengaruhi oleh dinamika politik, koalisi antarkekuatan politik, serta konfigurasi konstitusional pada saat itu. Namun refleksi yang ditawarkan buku ini tetap relevan: sebuah gerakan yang kehilangan orang-orang yang memperjuangkan the cause berisiko kehilangan daya moral yang dahulu menjadi sumber kekuatannya.

Pelajaran itu tidak hanya berlaku bagi partai politik.

Ia berlaku bagi setiap organisasi, perusahaan, lembaga negara, bahkan sebuah bangsa.

Sejarah memperlihatkan bahwa sebuah perjuangan jarang runtuh karena kuatnya lawan dari luar.

Lebih sering ia melemah ketika kehilangan ruh perjuangannya sendiri.

Itulah sebabnya buku ini layak dibaca oleh generasi muda, para pemimpin bangsa, anggota DPR, pejabat publik, aparat penegak hukum, prajurit TNI, anggota Polri, akademisi, dan seluruh warga negara Indonesia.

Bukan karena mereka harus menyetujui seluruh pandangan Erros Djarot.

Melainkan karena mereka perlu memahami bagaimana demokrasi Indonesia diperjuangkan.

Mungkin alasan terdalam mengapa autobiografi ini hadir pada saat yang tepat adalah karena sejarah tidak hanya dapat hilang ketika dihapus.

Sejarah juga dapat hilang ketika para pelakunya pergi tanpa sempat menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.

Hampir tiga dekade telah berlalu sejak Reformasi 1998. Banyak pelaku sejarah telah memasuki usia senja. Sebagian telah wafat. Bersamaan dengan itu, detail-detail penting mengenai perjalanan demokrasi Indonesia perlahan ikut menghilang dari ingatan kolektif bangsa.

Karena itulah autobiografi ini memiliki makna yang jauh melampaui sebuah kisah hidup.

Ia adalah upaya menyelamatkan memori sejarah.

Pada akhirnya, demokrasi tidak diwariskan melalui konstitusi semata.

Demokrasi diwariskan melalui ingatan.

Membaca autobiografi Erros Djarot bukan sekadar membaca kisah seorang tokoh.

Kita sedang membaca kembali perjalanan bangsa Indonesia menemukan kebebasannya.

Dan bangsa yang berhenti membaca sejarah perjuangan demokrasinya, perlahan akan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan demokrasi itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *