IGIC 2026 Hadirkan 49 Delegasi dari 39 Negara, Menag Gagas Ukhuwah Makhluqiyah

JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya memperkuat peran imam sebagai duta perdamaian dan jembatan kemanusiaan di tengah berbagai konflik dan tantangan global. Menurutnya, kedekatan imam dengan masyarakat menjadikan pemimpin keagamaan memiliki posisi strategis untuk membangun dialog, meredam ketegangan, dan memperkuat harmoni.

“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Menag saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Menag mengatakan, peran imam sangat penting karena memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan masyarakat. Imam bertemu umat secara rutin melalui berbagai aktivitas keagamaan, bahkan lima kali dalam sehari.

“Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam berjumpa dengan umat, bahkan melampaui seringnya pemerintah atau pimpinan ormas lain berjumpa dengan umat,” kata Menag.

Karena itu, Menag mendorong agar peran imam tidak berhenti pada kepemimpinan ritual, tetapi diperluas ke ruang sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, ada persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan formal, termasuk konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia.

“Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha menawarkan solusi lain, mari kita melakukan pendekatan lain. Bagaimana kita mendekati antar para pihak dengan menggunakan bahasa moral, bahasa kemanusiaan,” ujarnya.

Kemanusiaan sebagai Titik Temu

Menag menekankan, rasa kemanusiaan merupakan titik temu yang dimiliki setiap manusia, tanpa mengenal latar belakang agama, etnis, maupun kebangsaan.

“We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apapun, etnik manapun juga. Semua punya rasa kemanusiaan,” tegasnya.

Ia berharap bahasa agama dapat digunakan untuk menyentuh sisi kemanusiaan tersebut, terutama dalam merespons konflik regional dan internasional.

Pusat Perdamaian dan Kepedulian Lingkungan

Selain membangun perdamaian antarmanusia, Menag juga mengaitkan peran imam dengan upaya menjaga lingkungan. Ia mendorong penggunaan bahasa agama untuk membangun kesadaran mencegah kerusakan alam.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan ekoteologi yang diangkat dalam IGIC 2026. Masjid, kata Menag, dapat dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan kepentingan keagamaan dengan persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Menag juga menyampaikan rencana memperluas semangat IGIC melalui pertemuan dengan para pemimpin rumah ibadah lintas agama.

“Insyaallah kelanjutan dari IGIC ini, kami juga akan menggagas pertemuan dengan pimpinan rumah ibadah lain non-muslim, Katolik, gereja, dan rumah ibadah lainnya. Mari kita undang duduk bersama, karena tema sentral kita semua umat beragama adalah sama,” ungkapnya.

Ia bahkan memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sebagai sesama makhluk.

“Bahkan ada satu ukhuwah selain ukhuwah basyariyah, wathaniyah, dan Islamiyah. Ada konsep ukhuwah lain yang perlu kita kembangkan, yakni ukhuwah makhluqiyah. Persaudaraan kita sebagai sesama makhluk,” jelasnya.

49 Delegasi dari 39 Negara

IGIC 2026 mempertemukan para pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi kepemimpinan agama terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian global.

Ketua Panitia IGIC 2026 M. Sabilul Alif menyampaikan, hingga pembukaan kegiatan terkonfirmasi hadir 49 delegasi internasional dari 39 negara, yang terdiri dari Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026. Konferensi imam besar berskala dunia yang pertama kali digelar ini mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *