PIJARNUSA.COM – Perusahaan sibuk meratapi nasib masyarakat dipaksa hirup polusi pekat di Hari Jadi Purwakarta. Napas warga Kecamatan Maniis kini resmi berganti menu.
Alih-alih menghirup oksigen segar khas pedesaan, masyarakat di wilayah perbatasan Purwakarta ini dipaksa akrab dengan aroma pekat debu gosong sisa kebakaran kandang ayam yang tak kunjung dibersihkan oleh pihak perusahaan.
Dadang S (41), seorang warga yang tampaknya mulai lelah menguji ketahanan paru-parunya, menyindir sikap masa bodoh manajemen perusahaan.
Ia merasa pengusaha seolah-olah menganggap abu sisa petaka tersebut sebagai parfum lingkungan gratis bagi masyarakat sekitar.
“Kami ini sangat berduka, sungguh ikut menangis melihat bisnis mereka luluh lantak. Tapi masa iya, sebagai balasannya, warga di sini harus dipaksa ikut menyetor nyawa dengan menghirup debu beracun setiap hari? Udara bersih kami dirampas, sementara pemiliknya mungkin sedang sibuk menghitung nilai klaim asuransi tanpa peduli dada kami sesak,” kata Dadang dengan nada sarkas yang tajam, Senin (13/7/2026).
Ketajaman kritik juga dilontarkan oleh Jaja (35), warga Maniis lainnya yang tinggal persis di jalur embusan angin dari lokasi reruntuhan. Jaja menyebut tumpukan abu setinggi gunung itu kini bertransformasi menjadi teror kesehatan yang dikirim langsung ke ruang tamu rumah warga.
Luar biasa hebat kepedulian perusahaan ini. Mereka yang kebakaran, tapi kami yang disuruh patungan bayar pakai kesehatan. Jangankan menyiram air atau menutup puing pakai terpal, nongol ke warga untuk minta maaf karena udaranya dikotori saja tidak ada.
Kami paham mereka sedang berduka, tapi jangan sampai kedukaan itu dipakai sebagai tameng hukum untuk meracuni satu kecamatan,” cetus Jaja dengan nada dongkol.Hebatnya, hingga hari ini belum ada satu pun tindakan taktis dari manajemen perusahaan untuk meredam “hadiah” debu tersebut.
Hak dasar warga untuk menghirup udara sehat mendadak runtuh sejak puing-puing gosong itu dibiarkan terbang bebas ditiup angin ke pemukiman.
Masyarakat Maniis kini mendesak pemilik usaha untuk segera bangun dari lamunan dukanya dan melakukan pembersihan total.
Warga menuntut aksi nyata di lapangan sebelum puskesmas setempat panen massal pasien infeksi saluran pernapasan (ISPA).
“Kami tidak butuh air mata atau drama kesedihan dari perusahaan. Yang kami butuhkan adalah alat berat dan pasokan air untuk menyiram abu ini agar udara kami kembali layak dihirup manusia, bukan dihirup sisa-sisa unggas,” tegas Dadang. ***
