PIJARNUSA.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta terus mendorong pengurangan sampah organik melalui pembinaan dan kemitraan dengan masyarakat. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dilakukan bersama Kelompok Pembudidaya Maggot KOI B7 Walangi yang dikelolah oleh Kang Irwan dalam pengolahan sampah organik dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Nasional.
Melalui pendekatan pengelolaan berbasis ekonomi sirkular, sampah organik berupa sisa makanan dan limbah dapur dari kegiatan SPPG di olah menjadi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Metode ini dinilai efektif untuk mempercepat penguraian sampah organik sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Dalam satu bulan, hampir satu ton sampah dapur dari kegiatan SPPG berhasil di olah oleh Kelompok Maggot KOI B7 Walangi. Sampah yang sebelumnya berpotensi menimbulkan bau dan meningkatkan beban tempat pembuangan akhir (TPA), kini dimanfaatkan sebagai media pakan maggot BSF.
Koordinator Kelompok Maggot KOI B7 Walangi, Kang Irwan, menjelaskan bahwa proses pengolahan dilakukan secara bertahap mulai dari pencacahan sampah organik, fermentasi ringan, hingga pemberian pakan kepada larva maggot. Selain mengurangi volume sampah secara signifikan, hasil budidaya maggot juga dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif untuk pakan ikan dan ternak.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik sebenarnya memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan baik. Dengan sistem maggot BSF, sampah dapur bisa cepat terurai dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta H Erlan Diansyah,SE,MP di dampingi Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan H Bayu Nur Setiawan menyampaikan apresiasi terhadap peran aktif masyarakat dan kelompok pengolah sampah lokal dalam mendukung program pengurangan sampah dari sumber. Menurutnya, pengolahan sampah organik berbasis maggot BSF menjadi salah satu solusi yang efektif, murah, dan berkelanjutan dalam mengurangi timbulan sampah organik di Kabupaten Purwakarta.
“Kami sangat mendukung kegiatan yang dilakukan Kelompok Maggot KOI B7 Walangi. Ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik. Selain membantu mengurangi beban sampah ke TPA, kegiatan ini juga memberikan manfaat ekonomi dan edukasi lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa DLH Kabupaten Purwakarta akan terus melakukan pembinaan, pendampingan, dan penguatan kemitraan dengan komunitas pengelola sampah agar semakin banyak wilayah yang mampu mengolah sampah organiknya secara mandiri.
Selain pengolahan maggot, kelompok KOI B7 Walangi juga mengembangkan sarana budidaya dan fasilitas pengolahan sederhana secara mandiri. Fasilitas tersebut meliputi area pemeliharaan maggot, kandang lalat BSF, mesin pencacah sampah organik, serta rak budidaya yang dibangun dengan konsep sederhana dan efisien.
DLH Kabupaten Purwakarta berharap model pengelolaan seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah, khususnya untuk menangani sampah organik dari rumah tangga, pasar, restoran, dan kegiatan komersial lainnya.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah dan kelompok pengelola sampah lokal, pengurangan sampah organik di Kabupaten Purwakarta diharapkan semakin optimal serta mampu mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan*
