PURWAKARTA — Kondisi infrastruktur di sepanjang jalur perlintasan utama Kecamatan Maniis menuju kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, semakin memprihatinkan. Wilayah yang dielu-elukan secara internasional sebagai pusat energi hijau berkat berdirinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung terbesar di Asia Tenggara ini, justru menyimpan ironi sosial yang mendalam: jalan raya utamanya hancur kupak-kapik dan gelap gulita saat malam hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kombinasi antara jalan yang rusak parah dan ketiadaan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) membuat jalur strategis Cirata–Maniis menjadi jalur tengkorak yang sangat berbahaya. Lubang-lubang besar yang menganga tertutup oleh kegelapan malam, siap mengancam keselamatan para pengendara, terutama roda dua.
“Aneh sekaligus miris. Daerah kami ini dibanggakan sebagai penghasil listrik raksasa, tetapi jalan di depan mata kami sendiri gelap gulita seperti tidak tersentuh pembangunan. Sudah gelap, jalannya jelek dan berlubang parah pula. Ini sangat membahayakan nyawa kami yang lewat setiap hari,” keluh Supriatna (45), salah seorang warga Maniis yang kerap melintasi jalur tersebut.
Kondisi infrastruktur yang terabaikan ini memicu gelombang protes dan pertanyaan besar dari masyarakat mengenai komitmen tanggung jawab sosial perusahaan. Warga secara terbuka mempertanyakan realisasi anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari pihak pengelola megaproyek PLTS Terapung tersebut.
“Kami sebagai warga lokal di ring satu hanya mendapatkan dampak buruknya. Suhu udara sekitar waduk semakin gerah akibat pantulan ribuan panel surya, pendapatan nelayan tradisional juga terganggu. Sekarang, fasilitas mendasar seperti perbaikan jalan raya dan lampu penerangan saja tidak ada. Kami mempertanyakan, dikemanakan dana CSR dari PLTS Cirata? Mengapa infrastruktur publik di jalur utama ini dibiarkan telantar?” tegasnya dengan nada kecewa.
Selain meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas yang fatal akibat kendaraan yang terperosok lubang dalam kondisi gelap, perlintasan yang sunyi ini juga memicu kerawanan tindakan kriminalitas di malam hari. Warga menilai, pembiaran kerusakan dan kegelapan di area lumbung energi ini merupakan bentuk pengabaian nyata terhadap hak-hak sosial masyarakat setempat.
Masyarakat Kecamatan Maniis kini mendesak manajemen pengelola PLTS Terapung Cirata, PLN Nusantara Power, serta Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk segera duduk bersama dan membuka transparansi penyaluran dana CSR. Warga menuntut aksi nyata berupa pengaspalan ulang jalan dan pemasangan jaringan lampu jalan umum di sepanjang perlintasan Cirata–Maniis sebelum kekecewaan masyarakat lokal memuncak.***
