Oleh Krisna Bayu, Oly
Bagi Krisna Bayu, Oly, berbincang dengan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) selalu menarik, terlebih ketika pembicaraan menyangkut perolehan medali dan posisi Kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Okto, panggilan akrab Raja Sapta Oktohari, memaparkan posisi Indonesia di peringkat ke-16 dengan raihan 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Dalam catatannya, lima emas tersebut berasal dari hanya empat cabang olahraga (cabor): bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
Secara kuantitatif, target pemerintah empat medali emas memang terlampaui. Namun, justru di sinilah evaluasi harus dimulai. Pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah target empat emas tercapai?” Jawabannya: ya.
Pertanyaan yang lebih strategis adalah: “Mengapa sumber emas Indonesia masih terkonsentrasi pada cabang olahraga yang sudah menjadi kekuatan kita?”
Pola medali masih terkonsentrasi
Pola medali Indonesia memang masih bertumpu pada empat cabor tersebut.
Pada Olimpiade Paris 2024, Indonesia meraih dua medali emas dan satu perunggu. Emas diraih dari panjat tebing melalui Veddriq Leonardo dan angkat besi melalui Rizki Juniansyah. Sementara itu, Gregoria Mariska Tunjung menyumbangkan medali perunggu dari bulu tangkis.
Sejarah keikutsertaan Indonesia di Olimpiade juga menunjukkan pola serupa. Bulu tangkis menyumbangkan 22 medali, angkat besi 16 medali, panjat tebing satu medali, dan panahan satu medali.
Inilah fakta yang harus dibaca dengan jernih. Bukan berarti Indonesia tidak berkembang. Panjat tebing, misalnya, menunjukkan perkembangan luar biasa. Pada 2024, Veddriq Leonardo mempersembahkan emas Olimpiade pertama Indonesia dari cabang tersebut.
Panahan juga memiliki sejarah penting.
Trio Srikandi Lilies Handayani, Kusuma Wardhani, dan Nurfitriyana meraih medali perak pada Olimpiade Seoul 1988. Medali itu tercatat sebagai medali pertama Indonesia sepanjang keikutsertaan di Olimpiade.
Kini, pemanah putri Nurisa Dian Ashrifah kembali membuat kejutan dengan meraih emas nomor compound di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Ia mengantarkan panahan meraih emas Asian Games pertama Indonesia dari cabang tersebut.
Jadi, persoalannya bukan sekadar “kita tidak punya cabor baru”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kita belum berhasil memperbanyak cabang olahraga yang mampu bersaing di level elite dunia?
Kritik jangan dianggap sebagai musuh
Ini salah satu pesan penting dari RSO.
Dalam olahraga Indonesia, kritik terlalu sering diterjemahkan sebagai serangan, ketidakpercayaan, permusuhan, atau bahkan upaya menjatuhkan organisasi. Padahal, kritik yang sehat merupakan bagian dari high-performance system.
Jika seorang atlet melakukan kesalahan teknik, pelatih memperbaikinya. Jika data menunjukkan program latihan tidak efektif, program diubah. Jika strategi pertandingan gagal, strategi dievaluasi.
Melontarkan kritik bukan berarti membenci. Kritik dapat lahir dari ketulusan dan keinginan agar sistem menjadi lebih baik, sehingga mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan.
Cabor harus berani melakukan autokritik
Ini mungkin bagian yang paling sulit. Setiap cabang olahraga perlu berani duduk dan bertanya: apa sebenarnya masalah kita?
Apakah kita tidak punya atlet, atau tidak mampu menemukan mereka? Apakah proses scouting keliru? Apakah kita salah memilih talenta atau gagal membinanya dengan tepat? Apakah pelatih tidak berkembang, kompetisi terlalu sedikit, anggaran tidak berkelanjutan, atau organisasi terlalu sibuk dengan urusan internal?
Kegagalan kerap dijawab dengan alasan “kurang anggaran”. Padahal, masalahnya tidak selalu terletak pada jumlah uang. Terkadang, persoalannya adalah cara menggunakan anggaran.
Menemukan atau membina atlet?
Ini pertanyaan mendasar. Ada dua pendekatan untuk menemukan dan membangun atlet.
Pertama, scouting: mencari anak yang memiliki potensi menjadi atlet elite berdasarkan aspek antropometri, biomotorik, psikologis, dan karakter.
Kedua, athlete development: mengambil talenta muda dan membangun kemampuannya melalui pembinaan bertahun-tahun.
Kedua pendekatan ini sebenarnya sudah dilakukan di Indonesia. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), misalnya, menjalankan program identifikasi bakat dengan pendekatan data dan sport science. Program SLOMPN juga mencakup talent scouting, pemantauan performa, nutrisi, pemulihan, dan pembinaan mental.
Penelitian di Indonesia mengenai identifikasi bakat pun merekomendasikan penggunaan data antropometri dan biomotorik untuk memprediksi potensi atlet.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah kita bisa melakukan scouting?” Jawabannya: bisa. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: sejauh mana proses itu dilakukan, apakah sudah terintegrasi, dan apakah benar-benar berbasis data?
Cross-sport talent: mengapa harus takut?
Dalam pencarian talenta, bisa saja terjadi ketidaktepatan dalam menentukan cabang. Seorang anak mungkin ditemukan oleh satu cabor, tetapi setelah diuji mulai dari tinggi badan, kekuatan, kecepatan, waktu reaksi, koordinasi, fleksibilitas, komposisi tubuh, hingga aspek mental ternyata lebih cocok untuk cabang lain.
Jika karakteristik seorang atlet lebih sesuai dengan cabor lain, kepentingan nasional semestinya berada di atas ego sektoral. Memindahkan atlet ke cabang yang lebih cocok merupakan bagian dari identifikasi bakat modern.
Jangan hanya berkata, “Ini atlet saya,” lalu mempertahankannya. Yang perlu kita pikirkan adalah: ini talenta Indonesia.
Naturalisasi: tabu atau instrumen?
RSO juga membuka ruang diskusi mengenai isu yang selama ini sensitif: naturalisasi. Ia pernah menyatakan bahwa cabor lain dapat mempertimbangkan naturalisasi atlet sebagai salah satu stimulan prestasi. Ia juga pernah menyampaikan bahwa Indonesia membuka peluang naturalisasi atlet untuk Asian Winter Games 2025.
Gagasan tersebut bukan berarti naturalisasi adalah solusi utama. Naturalisasi hanyalah salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan, dengan syarat sesuai aturan, memiliki target dan manfaat yang jelas, serta tidak mematikan pembinaan atlet Indonesia.
Yang paling penting, naturalisasi jangan digunakan untuk menutupi kegagalan sistem pembinaan.
Membina atlet dari nol membutuhkan waktu
Indonesia bisa membina atlet dari nol, tetapi ada harga yang harus dibayar: waktu.
Jika ingin menciptakan atlet kelas dunia sejak usia muda, kita tidak bisa berharap bahwa atlet yang mulai dibina hari ini akan meraih emas tahun depan. Olahraga prestasi adalah investasi jangka panjang.
Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dirancang Kemenpora sebagai arah kebijakan pembinaan jangka panjang yang efektif, efisien, unggul, terukur, sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan. Kemenpora juga pernah menegaskan bahwa prestasi tidak boleh hanya terjadi by accident. DBON seharusnya mengarahkan pembinaan agar prestasi lahir dari proses yang terencana.
Jika memilih untuk menciptakan atlet, kita harus siap menyediakan anggaran jangka panjang, pelatih berkualitas, sport science, kompetisi, nutrisi, fasilitas, layanan kedokteran olahraga, dan kesabaran.
Kita bukan negara yang miskin potensi
Indonesia memiliki lebih dari 270 juta penduduk, wilayah yang luas, keragaman antropometri, ribuan sekolah dan klub, serta puluhan cabang olahraga. Potensi manusianya sangat besar.
Karena itu, alasan “kita tidak punya atlet” perlu dipertanyakan. Mungkin atletnya belum ditemukan. Mungkin sudah ditemukan, tetapi belum berhasil dibina. Atau, yang lebih buruk, atletnya ada, tetapi sistem tidak mampu menjaga dan mengembangkannya.
Organisasi olahraga harus melayani atlet
RSO juga menyoroti persoalan seperti gengsi institusi, ketua umum yang tidak tepat, serta pengurus yang oportunistis atau pragmatis. Hal-hal tersebut tidak boleh dijadikan tuduhan kepada individu tertentu tanpa bukti. Namun, sebagai risiko tata kelola, persoalan itu layak dibahas.
Organisasi olahraga bukan milik pengurus. Organisasi olahraga adalah instrumen untuk melayani atlet dan prestasi.
Jika ego institusi lebih besar daripada kepentingan atlet, sistem akan rusak. Jika kepentingan politik mengalahkan prestasi, sistem akan rusak. Jika jabatan lebih penting daripada kompetensi, sistem akan rusak. Pada akhirnya, atletlah yang menanggung akibatnya.
DBON sudah memberikan arah Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 tentang DBON dirancang sebagai pedoman bagi pemerintah pusat dan daerah, organisasi olahraga, induk cabang olahraga, dunia usaha, akademisi, media, serta masyarakat.
DBON juga tidak mengharuskan semua cabor diperlakukan sama. Pembinaan prestasi menuntut adanya prioritas. Kemenpora menjelaskan bahwa sumber daya tidak mungkin diberikan secara sama kepada sekitar 70 cabor. Karena itu, diperlukan cabang prioritas yang berorientasi pada Olimpiade dan memiliki potensi medali.
Kita tidak harus menang di semua cabor. Namun, kita harus tahu cabor mana yang harus dimenangkan.
Jika berorientasi pada medali, jangan setengah-setengah Jika negara menyatakan ingin meraih prestasi internasional, jangan membangun sistem dengan setengah hati. Cabor prioritas harus didukung dengan anggaran, atlet, pelatih, sport science, kompetisi, pemantauan, dan evaluasi yang memadai.
Kemenpora juga menyatakan bahwa fokus olahraga elite diarahkan kepada cabor DBON dan cabang yang memiliki peluang medali tinggi, termasuk yang dipertandingkan dalam berbagai ajang internasional.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi, “Haruskah kita memiliki prioritas?” Melainkan: apakah prioritas itu sudah dijalankan secara konsisten?
Jangan hanya memuji empat cabor penyumbang emas Bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan telah membuktikan kapasitasnya dengan menghasilkan seluruh emas Indonesia di Aichi-Nagoya 2026. Keempatnya juga memiliki sejarah medali Olimpiade Indonesia.
Namun, kita tidak cukup hanya mengatakan, “Mereka memang hebat.” Kita perlu mencari tahu apa yang membuat mereka berhasil: tradisi pembinaan, klub, kompetisi, pelatih, sistem scouting, dukungan pemerintah, sponsor, sport science, atau budaya kompetitif.
Jika faktor keberhasilan mereka dapat dipetakan, unsur-unsur yang relevan bisa menjadi pelajaran bagi cabor lain.
Setiap cabor membutuhkan strategi berbeda
Tidak semua cabor berada dalam kondisi yang sama. Ada yang sudah kuat dan tinggal diperkuat. Ada yang pernah berjaya dan perlu dihidupkan kembali. Ada yang berpotensi, tetapi belum mencapai level elite. Ada pula yang harus dibangun dari nol.
Karena itu, tidak masuk akal jika semua cabor menggunakan satu resep yang sama.
Evaluasi Aichi-Nagoya harus lebih dalam
Evaluasi tidak boleh berhenti pada kalimat, “Target empat, hasilnya lima.” Itu baru evaluasi angka. Kita membutuhkan evaluasi sistem yang menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Dari mana atlet berasal dan bagaimana mereka ditemukan?
- Berapa lama mereka dibina, dan berapa besar biayanya?
- Apa peran sport science dan program kompetisi?
- Faktor apa yang membuat atlet berhasil?
- Apa yang menyebabkan cabor lain belum mencapai hasil serupa?
Evaluasi seperti inilah yang dapat menghasilkan kebijakan.
Kritik harus diubah menjadi data
Semangat penting dari catatan RSO adalah mengubah pola kritik → tersinggung menjadi kritik → data → evaluasi → keputusan → perbaikan.
Jika sebuah cabor dinilai lemah dalam scouting, tunjukkan datanya. Jika disebut kekurangan atlet, paparkan jumlah dan kualitas talent pool-nya. Jika mengeluhkan anggaran, jelaskan kebutuhan program high-performance-nya. Jika pelatih dinilai kurang, tunjukkan kompetensi dan sertifikasinya. Jika sistem dianggap gagal, tetapkan indikator yang dapat diuji.
Inilah cara olahraga modern berbicara.
Kita membutuhkan pandangan semua pihak
Masalah olahraga Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu institusi. Kita perlu mendengar atlet, mantan atlet dan Olympian, pelatih, induk cabor, NOC Indonesia, Kemenpora, pemerintah daerah, akademisi, sport scientist, tenaga kedokteran olahraga, pengamat, media, dan dunia usaha.
Yang tidak kalah penting, semua pihak harus berani saling mengkritik tanpa saling memusuhi.
Pertanyaan besar untuk olahraga Indonesia
Setelah Aichi-Nagoya 2026, kita harus berani menentukan arah. Apakah kita ingin menjadi negara yang sekadar banyak mengikuti pertandingan, atau negara yang sungguh-sungguh mengejar medali?
Tidak ada yang salah jika kita memilih berorientasi pada medali. Prestasi olahraga merupakan bagian dari soft power dan kebanggaan nasional. Namun, jika itu yang menjadi pilihan, kita harus serius dan tidak setengah-setengah.
Jangan puas hanya karena target terlampaui
Lima emas adalah prestasi yang patut diapresiasi. Atlet harus dihormati, pelatih dihargai, dan federasi, Chef de Mission (CdM), serta seluruh kontingen diberi penghargaan.
Namun, keberhasilan dalam satu ajang tidak boleh menghentikan evaluasi jangka panjang. Justru karena target terlampaui, sekarang saatnya bertanya:
Bagaimana lima emas menjadi sepuluh?
Bagaimana empat cabor berprestasi menjadi delapan?
Bagaimana jumlahnya bisa terus bertambah?
Jawabannya bukan dengan membagi anggaran secara merata, melainkan dengan strategi yang tepat.
Kesimpulan: kita harus memutuskan ingin menjadi apa
Saya membaca pesan RSO bukan sebagai ajakan mencari kambing hitam, melainkan sebagai tantangan untuk berani berubah: - Berhenti takut mengkritik dan mengubah cara lama.
- Berhenti menganggap talenta sebagai milik satu cabor.
- Berhenti memandang scouting sekadar sebagai upaya mencari anak berbakat.
- Mulai menggunakan data dan sport science.
- Mulai berani mengembangkan cross-sport talent.
- Mulai berani memilih prioritas.
- Jika medali menjadi orientasi nasional, bangunlah sistem yang memang dirancang untuk menghasilkannya.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi. Yang sering kurang adalah konsistensi, keberanian mengambil keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama.
Kita tidak perlu takut mengakui bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar. Lima emas adalah hasil, tetapi bukan akhir evaluasi. Justru hasil itu harus menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar:
“Apakah kita hanya ingin mempertahankan medali, atau berani membangun Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?”
Keputusannya ada pada kita semua.
