Oleh: Saiful Huda Ems.
Jauh sebelum perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS), Israel itu perangnya hanya menghadapi anak-anak kecil dan ibu-ibu serta bapak-bapak Lansia yang berada di Gaza. Kemudian muncullah gerakan anak-anak remaja dan para pemuda Palestina yang melawan penjajahan Israel atas Palestina. Remaja-remaja dan pemuda-pemuda itu hanya menggunakan ketapel dan lemparan batu, maka disebutlah dengan Gerakan Intifada. Dimulai pada Desember 1987 hingga 1993.
Gerakan Perlawanan Rakyat Palestina dengan sebutan Intifada ini bermula di Kamp Jabalia, Jalur Gaza, setelah insiden truk Israel menabrak warga Palestina, yang kemudian memicu pemberontakan massal Rakyat Palestina di tepi Barat dan Gaza, serta berlangsung hingga tahun 1993. Gerakan lemparan batu dan ketapel yang disebut dengan Intifada ini tidak seimbang dengan serdadu-serdadu Israel yang menggunakan peralatan militer yang canggih dan modern, makanya Israel selalu menang dan merasa percaya diri.
Iran dan Mesir kemudian diam-diam membantu persenjataan anak-anak remaja dan pemuda Palestina yang melawan penjajahan Israel ini dengan senjata-senjata yang sedikit lebih modern, hingga akhirnya Gerakan Intifada mulai berkembang pesat dan terorganisir dengan baik. Lalu berdirilah HAMAS di Tahun 1987, yang didirikan oleh Cendekiawan Muslim Palestina yang bernama Ahmed Yassin. Gerakan ini muncul dari badan amal Islam Mujama Al-Islamiyah tahun 1973 yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Mereka mulai melakukan perang gerilya dari tempat ke tempat, hingga Israel mulai kebingungan. Maka Israel meminta dukungan politik dan persenjataan pada Amerika Serikat (AS) untuk menggempur pergerakan HAMAS. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Israel untuk menghentikan pergerakan HAMAS ini. Dan meskipun Israel sudah membantai banyak anak-anak kecil, remaja dan para ibu-ibu serta bapak-bapak Lansia untuk menghentikan Pergerakan HAMAS, tetapi HAMAS tetap bergerak tiada henti melawan penjajahan Israel.
Kendatipun demikian, HAMAS pejuang kemerdekaan Palestina ini tetap bertahan dengan baik, hingga Israel dan Amerika perlu dukungan penuh dari negara-negara lain untuk melenyapkan HAMAS. Negara-negara lain yang tahu situasi di Palestina tidak mau mendukung aksi-aksi penjajahan Israel atas Palestina ini, bahkan sebagian negara berpenduduk mayoritas Islam mulai memberikan dukungannya pada perjuangan HAMAS.
Israel dan AS mulai pusing tujuh keliling, lalu muncullah ide untuk mendiskreditkan para pejuang kemerdekaan Palestina (HAMAS) ini, serta Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan sebutan kelompok teroris internasional. Diakui atau tidak, sebenarnya sudah banyak sekali orang-orang yang termakan dengan propaganda Barat, yang menyebut HAMAS di Palestina dan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai bagian dari kelompok teroris internasional ini.
Tidak hanya para akademisi dan analis politik internasional, melainkan pula tokoh-tokoh medsos kelas teri di negeri Republik Indonesia ini. Misalnya saja Abu Gemblung Algendengi Al Noraki Al Israeli Zionisi Gombali Pendukungi Al Jokowi bin Mukidi. Mereka terus koar-koar, pagi, siang dan malam di medsos, dari tahun ke tahun yang melabeli HAMAS dan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris internasional. Ironis sekali bukan?…
Nah, mulai dari situlah kemudian pengaruh HAMAS pada negara-negara mayoritas Islam mulai berkurang. Padahal HAMAS itu sejatinya organisasi para pejuang kemerdekaan Palestina yang berawal dari gerakan lempar batu dan tarik ketapel (Intifada). Mirip dengan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia dahulu yang hanya menggunakan Bambu Runcing melawan penjajah Belanda dan Jepang. Namun ajaibnya, Allah SWT Yang Maha Kuasa berkehendak lain. HAMAS pengaruhnya mulai berkurang, akan tetapi dukungan untuk kemerdekaan Palestina dan dihentikannya genosida Israel terhadap penduduk Palestina malah menggema, menggelegar di seluruh penjuru dunia !.
Penduduk di negara-negara yang penduduknya mayoritas bukan beragama Islam, seperti Amerika, Jerman, Australia, China, Jepang dll., malah melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di negara-negaranya sendiri, untuk mengutuk Israel bahkan mengutuk kebijakan Pemerintah AS yang pro Israel. Sampai-sampai ketika ada pejabat-pejabat Israel yang berkunjung ke China dan terakhir ke Australia dikejar-kejar warga setempat.
Luar biasa bukan, padahal mereka itu mayoritas bukan Umat Islamloh dan menjadi penduduk di negara-negara yang bukan Islam lagi. Memang benar apa kata orang, untuk memiliki rasa/solidaritas kemanusiaan tidak perlu jauh-jauh mencari dalil-dalil agama, namun cukup perlu menjadi manusia !.
Sementara itu di sisi lain, PM Israel Benjamin Netanyahu juga terlibat perkara korupsi di negerinya sendiri, Israel. Sedangkan Donald Trump juga terlibat kasus skandal sex dengan anak-anak kecil (pedofilia) di AS. Kalau gak percaya datang sendiri ke AS, dan mintalah dokumen Epstein yang sudah pernah dibuka untuk dibuka kembali.
Netanyahu dan Donald Trump linglung, terpuruk tanpa dukungan, bahkan stres karena persoalan korupsi dan skandal sex (pedofilia). Maka mereka berdua mulai kehilangan akal sehatnya, lalu membabi buta menyerang Iran disaat perundingan (Iran-AS) masih berjalan, Sabtu (28/2/2026) serta membunuh pemimpin tertingginya (Rahbar), yakni Ali Khamenei.
Namun lagi-lagi dua orang stres dan banyak skandal ini (Netanyahu dan Trump) salah perhitungan, mereka mengira Iran hanya sekuat HAMAS di Palestina atau Hizbullah di Lebanon, tetapi kenyataannya malah Iran jauh lebih perkasa bahkan dibanding Israel yang luas negaranya hanya 1 dibanding 75 dengan Iran. Terlebih lagi dalam keunggulan persenjataan rudal dan strategi perangnya yang melampaui Amerika Serikat ! Rasakanlah hai dua setan dunia (Israel dan AS) !…(SHE).
