Mega Proyek Rp 1,7 Triliun PLTS Terapung Cirata Dikabarkan Lumpuh, Panel Surya Hanyut Terendam Air

PURWAKARTA – Proyek kebanggaan nasional, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata, kini tengah menjadi sorotan tajam. Baru memasuki tahun kedua masa operasionalnya sejak diresmikan November 2023 lalu, kondisi instalasi energi terbarukan terbesar di Asia Tenggara ini dilaporkan mengalami kerusakan parah.

Pantauan tim di lapangan menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Ribuan panel surya atau solar cell yang seharusnya berjejer rapi di atas permukaan waduk, kini nampak tercerai-berai. Banyak di antaranya yang hanyut terbawa arus dan sebagian besar terendam air akibat rusaknya struktur alas pijakan atau material pelampung (floater).

Investasi Fantastis di Ambang Kehancuran?

Pembangunan PLTS Terapung Cirata bukanlah proyek sembarangan. Proyek kolaborasi antara PT PLN Nusantara Power dan perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Masdar, ini menelan investasi mencapai Rp 1,7 triliun (sekitar USD 143 juta). 

Dengan kapasitas 192 MWP, pembangkit ini diproyeksikan mampu melistriki 50.000 rumah tangga. Namun, daya tahan material penyangga kini dipertanyakan. Kerusakan pada alas pijakan membuat lempengan panel surya kehilangan daya apung dan akhirnya tenggelam atau terseret arus waduk.

Kesaksian Warga Sekitar

Kerusakan ini mulai disadari oleh warga dan nelayan yang sehari-hari beraktivitas di Waduk Cirata. Jajang (45), seorang nelayan setempat, mengaku melihat perubahan drastis pada area panel surya dalam beberapa hari terakhir.

“Awalnya saya lihat ada beberapa baris panel yang miring. Eh, besoknya sudah lepas dari ikatannya dan hanyut. Banyak yang terendam air, padahal itu kan isinya kabel-kabel semua. Kami jadi ngeri mau mendekat kalau lagi cari ikan,” ujar Jajang saat diwawancarai di tepian waduk, Selasa (5/5/2026).

Senada dengan Jajang, salah satu warga yang sempat bekerja sebagai tenaga lokal saat pembangunan, mengungkapkan kekhawatirannya akan kualitas material jangka panjang.

“Waktu pemasangan memang kelihatan kokoh, tapi kita nggak tahu kalau kena cuaca ekstrim terus-menerus di tengah air. Kalau alasnya sudah rusak, panel yang berat itu pasti ikut tenggelam. Sayang sekali, investasinya kan triliunan,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Pihak Pengelola Masih Bungkam

Hingga berita ini dipublikasikan, penyebab pasti kerusakan struktural pada PLTS Cirata tersebut masih belum diketahui. Apakah disebabkan oleh faktor alam, kualitas material yang tidak sesuai spesifikasi, atau kurangnya perawatan teknis pasca-operasional, masih menjadi tanda tanya besar.

Redaksi telah berupaya menghubungi perwakilan PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) selaku pengelola untuk meminta konfirmasi. Namun, pihak manajemen belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini.

Kondisi ini memicu kekhawatiran publik mengenai keberlanjutan proyek energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, mengingat PLTS Cirata merupakan etalase utama transisi energi nasional menuju Net Zero Emission. (DY) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *